Jumat, 09 Maret 2012

KEMAJUAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH


KEMAJUAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH DAN BANI ABBASIYAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Islam sejak kelahirannya pada awal abad ke-7 di Mekkah, Islam terus mengalami perkembangan yang pesat melewati berbagai tantangan yang sangat berat, sampai akhirnya tersebar ke seluruh dunia.[1] Bernard Lewis menulis, sampai akhir kekuasaan Khulafa’urrasyidin wilayah Islam terbentang luas dari Maroko sampai Indonesia, dari Kazakhtan sampai Sinegal.[2]
Seperti apapun kronologi wafatnya Kholifah Ali bin Abi Thalib, yang jelas hal ini telah menginspirasikan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk tampil sebagai pemegang tampuk kekuasaan islam, yang akhirnya berhasil dan mengubah kekuasaan dengan sistem dinasti dan diberi nama khilafah bani Umayyah. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya dinasti yang dibentuk mu’awiyah akhirnya dinasti ini runtuh pula.
Indikasi keruntuhan dinasti Bani Umayyah sebenarnya sudah tercium sepeninggal khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Kedamaian dan  ketentraman yang dirasakan masyarakat berganti dengan kekacauan dan kerusuhan. Keadaan ini terus berlanjut hingga pucuk pimpinan dinasti ini dipegang khalifah Hisyam ibn Abdul Malik dan khalifah-khalifah berikutnya. Di sisi lain kelompok oposisi yang digalang oleh keturunan Abbas ibn Abdul Muthalib yang mendapatkan dukungan dari golongan mawali (non-Arab) dan Abu Muslim al-Khurasani menjelma menjadi momok menakutkan, ditambah lagi khalifah-khalifah yang menggantikan Hisyam Ibn Abdul Malik begitu lemah dan bermoral buruk. Ketika Marwan Ibn Muhammad naik tahta, Khalifah yang tercatat sebagai khalifah terakhir dari Bani Umayyah ini karena adanya kekacauan, dia melarikan diri ke Mesir dan akhirnya terbunuh di sana. Dan pada saat itulah kekhalifahan berpindah kepada Bani Abbasiyah.
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan pembahasaan makalah ini adalah :
1.      Awal munculnya dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah
2.      Sistem pergantian Kholifah
3.      Prestasi yang dicapai
4.      Sebab kemunduran
C.     Tujuan
Mengacu pada rumusan masalah di atas, penulis mempunyai tujuan agar  :
1.      Mengetahui Awal munculnya dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah
2.      Mengetahui Sistem pergantian Kholifah
3.      Mengetahui Prestasi yang dicapai
4.      Mengetahui Sebab kemunduran

BAB II
PEMBAHASAN
A. DINASTI BANI UMAYYAH
a. Asal-usul Dinasti Bani Umayyah
Nama ” Daulah Umayah” berasal dari nama ” Umayah ibnu” Abdi Syam ibnu ”Abdi Manaf”, yaitu salah seorang dari pemimpin Qurays di zama Jahiliyah[3]. Bani Umayah merupakan keturunan Umayah, yang masih memiliki ikatan famili dengan para pendahulu Nabi. Naiknya bani Umayah ke puncak kekuasaan, dimulai oleh Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan, salah seorang keturunan bani umayah dan salah seorang sahabat Nabi, dan ia menjadi bagian penting dalam setiap masa pemerintahan para khulafa ar-rasyidun. Pada masa Ustman, Mu’awiyah diduga memiliki hubungan yang kuat dengan Ustman, sehingga terjebak dengan praktik nepotisme dengan Mu’wiyah. Bahkan kerusakan pemerintahan Ustman akibat nepotismenya kepada Bani Umayah, sehingga mendapatkan tantangan dari para pendukung Ali.[4]
Disinilah letak kepekaan nalar politik yang dimiliki Mu’awiyah mulai bekerja. Mu’awiyah pada dasarnya termasuk politisi ulung yang mampu mengambil posisi kekuasaan dalam setiap masa pemerintahan. Pada masa Ustman, betapa Mu’awiyah mampu membangun koalisi nepotis dengan Ustman, sehingga Bani Umayah tetap menjadi pihak yang diuntungkan. Sementara pada masa-masa Ali, Mu’awiyah telah mulai melakukan gerakan politik untuk meraih posisi puncak dalam kekuasaan. Mu’awiyah mampu memanfaatkan kelemahan dan keluguan kekuasaan Ali.
Pada masa Ali masih berkuasa, Mu’awiyah telah memiliki kekuatan penuh, sehingga pada saat Ali terbunuh, Mu’awiyah langsung mengambil alih kekuasaan dengan sangat mudah dan terkordinasi dengan baik. Salah satu kepekaan nalar politik Mu’awiyah ialah mampu belajar pada pengalaman yang terjadi pada tiga khalifah sebelumnya, yang berakhir dengan pembunuhan. Pilihan memindahkan kekuasaan ke luar Jazirah Arab, menunjukkan sikap dan kecerdasan politik Mu’awiyah dalam menghindari pergolakan antar kubu yang sangat tragis di kalangan umat Islam di jazirah Arab bahkan sebagai upaya untuk menghindari tragedi pembunuhan yang dilakukan terhadap tiga khalifah sebelumnya. Akhirnya, Mu’awiyah dan dinastinya mengendalikan kekuasaannya dari luar jazirah Arab, mencoba bersebarangan dengan para pendahulu-pendahulunya yang berkonsentrasi di wilayah jazirah Arab. Menurut H.A.R. Gibb : Mulai tahun 660 M. ibu kota kerajaan Arab dipindahkan ke Damaskus, tempat kedudukan baru khilafah Bani Umayah, sedangkan Madinah tetap merupakan pusat pelajaran agama Islam, pemerintah dan kehidupan umum kerajaan dipengaruhi oleh dapat istiadat Yunani Romawi Timur.[5]


b. Sistem Pergantian Kholifah
Pada masa-masa Awal Mu’awiyah menjadi penguasa kekuasaan masih berjalan secara demokratis, tetapi setelah berjalan dalam beberapa waktu, Mu’awiyah mengubah model pemerintahnya dengan model pemerintahan monarchiheredetis (kerajaan turun temurun).[6] yaitu sebagai berikut:
NO
NAMA
MASA BERKUASA
1
Mu’awiyah ibnu Abi Sufyan
661-681 M
2
Yazid ibn Mu’awiyah
681-683 M
3
Mua’wiyah ibnu Yazid
683-685 M
4
Marwan ibnu Hakam
684-685M.
5
Abdul Malik ibn Marwan
685-705 M
6
Al-Walid ibnu Abdul Malik
705-715 M
7
Sulaiman ibnu Abdul Malik
715-717 M
8
Umar ibnu Abdul Aziz
717-720 M
9
Yazid ibnu Abdul Malik
720-824 M
10
Hisyam ibnu Abdul Malik
724-743 M
11
Walid ibn Yazid
734-744 M
12
Yazid ibn Walid [ Yazid III]
744 M
13
Ibrahim ibn Malik
744 M
14
Marwan ibn Muhammad
745-750 M

c.Keberhasilan Yang Dicapai
Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu material dan immaterial
a). Bidang Material :
1.      Muawiyah mendirikan Dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda dengan peralatannya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata.
2.      Mu’awiyah merupakan khalifah yang mula-mula menyuruh agar dibuatkan ”anjung” dalam masjid tempat is sembahyang. Ia sangat khwatir akan keselamatan dirinya, karena khalifah Umar dan Ali, terbunuh ketika sedang melaksanakan shalat.
3.      Lambang kerajaan sebelumnya Al-Khulafaur Rasyidin, tidak pernah membuat lambang Negara baru pada masa Umayyah, menetapkan bendera merah sebagai lambang negaranya. Lambang itu menjadi ciri khas kerajaan Umayyah.
4.      Mu’awiyah sudah merancang pola pengiriman surat (post), kemudian dimatangkan lagi pada masa Malik bin Marwan. Proyek al-Barid (pos) ini, semakin ditata dengan baik, sehingga menjadi alat pengiriman yang baik pada waktu itu.
5.      Arsitektur semacam seni yang permanent pada tahun 691H, Khalifah Abd Al-Malik membangun sebuah kubah yang megah dengan arsitektur barat yang dikenal dengan “The Dame Of The Rock” (Gubah As-Sakharah).
6.      Pembuatan mata uang dijaman khalifah Abd Al Malik yang kemudian diedarkan keseluruh penjuru negeri islam.
7.      Pembuatan panti Asuhan untuk anak-anak yatim, panti jompo, juga tempat-tempat untuk orang-orang yang infalid, segala fasilitas disediakan oleh Umayyah.
8.      Pengembangan angkatan laut muawiyah yang terkenal sejak masa Uthman sebagai Amir Al-Bahri, tentu akan mengembangkan idenya dimasa dia berkuasa, sehingga kapal perang waktu itu berjumlah 1700 buah.
9.      Khalifah Abd Al-Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam yang tadinya berbahasa Yunani dan Pahlawi sehingga sampai berdampak pada orang-orang  non  Arab  menjadi  pandai  berbahasa Arab dan untuk menyempurnakan pengetahuan tata bahasa Arab orang-orang non Arab, disusun buku tata bahasa Arab oleh Sibawaih dalam al-Kitab.
10.  Merubah mata  uang  yang  dipakai  di  daerah-daerah    yang  dikuasai  Islam. Sebelumnya mata  uang  Bizantium  dan  Persia  seperti  dinar  dan  dirham. Penggantinya uang dirham terbuat dari mas dan dirham dari perak dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.
11.  Perluasaan wilayah kekuasaan dari Afrika menuju wilayah Barat daya, benua Eropa, bahkan perluasaan ini juga sampai ke Andalusia (Spanyol) di bawah kepemimpinan panglima Thariq bin Ziad, yang berhasil menaklukkan Kordova, Granada, dan Toledo.
12.  Dibangun mesjid-mesjid dan istana. Katedral St. Jhon di Damaskus dirubah menjadi mesjid, sedang Katedral yang ada di Hims dipakai sebagai mesjid dan gereja. Di  al-Quds  (Jerussalem) Abdul Malik membangun mesjid  al-Aqsha. Monumen terbaik yang ditinggalkan zaman ini adalah Qubah al-Sakhr di al-Quds. Di mesjid al-Aqsha yang menurut  riwayatnya  tempat Nabi  Ibrahim hendak menyembelih Ismail dan Nabi Muhammad mulai dengan mi’raj ke langit, mesjid Cordova  di  Spanyol  dibangun, mesjid  Mekah  dan Madinah  diperbaiki  dan diperbesar oleh Abdul Malik dan Walid.
13.  Bahkan pada masa, Sulaiman ibn Malik, telah dibangun pembangunan mega raksasa yang terkenal dengan Jami’ul Umawi.
b). Bidang Immaterial
1.      Mendirikan pusat kegiatan ilmiah di Kufah dan Bashrah yang akhirnya memunculkan nama- nama besar seperti Hasan al-Basri, Ibn Shihab al-Zuhri dan Washil bin Atha. Bidang yang menjadi perhatian adalah tafsir, hadits,  fikih, dan kalam.
2.      Penyair-penyair Arab baru bermunculan setelah perhatian mereka terhadap syair Arab Jahiliyah dibangkitkan. Mereka itu adalah Umar Ibn Abi Rabiah (w. 719 m.), Jamil al-Udhri (w. 701 M.),  Qays Ibn al-Mulawwah (w. 699 M.) yang lebih dikenal dengan nama Majnun Laila, al-Farazdaq (w 732M.), Jarir (w. 792 M) dan al-Akhtal (w. 710 M.).
3.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Sastra-Seni
Waktu dinasti ini telah mulai dirintis jalan ilmu naqli ; berupa filsafat dan eksakta.  Dan ilmu pengetahun berkembang dalam tiga bidang, yaitu bidang diniyah, tarikh, dan filsafat. Kota-kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan selama pemerintahan dinasti Umayah, antara lain kota Kairawan, Kordoba, Granda dan lain sebagainya. Sehingga secara perlahan ilmu pengetahuan terbagi menjadi dua macam, yaitu : pertama, Al-Adaabul Hadits (ilmu-ilmu baru), yang meliputi : Al-ulumul Islamiyah (ilmu al-Qur’an, Hadist, Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, At-Tarikh dan al-Jughrafi), Al-Ulumul Dkhiliyah (ilmu yang diperlukan untuk kemajuan Islam), yang meliputi : ilmu thib, filsafat, ilmu pasti, dan ilmu eksakta lainnya yang disalin dari Persia dan Romawi. Kedua : Al-Adaabul Qadamah (ilmu lama), yaitu ilmu yang telah ada pasa zaman Jahiliyah dan ilmu di zaman khalifah yang empat, seperti ilmu lughah, syair, khitabah dan amtsal.
Pada masa ini pula sudah mulai dirancang tentang undang-undang yang bersumber dari al-Qur’an, sehingga menuntut masyarakat mempelajari tentang tafsir al-Qur’an. Salah seorang ahli tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas. Pada waktu itu beliau telah menafsirkan al-Qur’an dengan riwayat dan isnad, kemudian kesulitan-kesulitan dalam mengartikan al-Qur’an dicari dalam al-hadist, yang pada gilirannya melahirkan ilmu hadist.  Dan akhirnya kitab tentang ilmu hadist sudah mulai dikarang oleh para ulama muslim. Beberapa ulama hadist yang terkenal pada masa itu, antara lain : Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidilah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri, Ibnu Abi Malikah (Abdullah bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky, Al-Auza’i Abdurrahman bin Amr, Hasan Basri as-Sya’bi. Dalam bidang hadist ini, Umar bin Abd Aziz secara khusus memerintahkan Ibn Syihab az-Zuhri untuk mengumpulkan hadist. Oeh karena itu, Ibnu Syihab telah dianggap sanat berjasa dalam menyebarkan hadist hingga menembus berbagai zaman. Sejak saat itulah perkembangan kitab-kitab hadist mulai dilakukan.[7]
4.      Gerakan Penerjemahan dan Arabisasi
Gerakan penerjemahan ke dalam bahasa Arab (Arabisasi buku), juga dilakukan, terutama pada masa khalifah Marwan. Pada saat itu, ia memerintahkan penerjemahan sebuah buku kedokteran karya Aaron, seorang dokter dari iskandariyah, ke dalam bahasa Siriani, kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab. Demikian pula, Khalifah memerintahkan menerjemahkan buku dongeng dalam bahasa sansakerta yang dikenal dengan Kalilah wa Dimnah, karya Bidpai. Buku ini diterjemahkan oleh Abdullah ibnu Al-Muqaffa. Ia juga telah banyak menerjemahkan banyak buku lain, seperti filsafat dan logika, termasuk karya Aristoteles :Categoris, Hermeneutica, Analityca Posterior serta karya Porphyrius :Isagoge.[8]


d. Kemunduran Dinasti Umayyah
Selama berkuasa kurang lebih 90 tahun lamanya, penguasa Bani Umayah, sejak Umayah berkuasa harus diakui telah banyak memberikan sesuatu yang berarti bagi Islam. Tetapi, kekuasaan yang dibangun dengan cara-cara yang keras dan kasar seperti yang dilakukan oleh Mu’awiyah seperti pasa saat ia merebut kekkuasaan, dan ditambah lagi dengan pola suksesi yang bersifat keluargaan telah memunculkan perlawanan yang keras dari lawan-lawan politik Bani Umaya. Sejak sepeninggal Hisyam ibnu Abd Malik, khalifah-khalifah Bani Umayah terus mengalami melemah, bukan hanya moral tetap juga lemah dalam kekuataan politik. Kelemahn ini tentu saja terus dimanfaatkan dengan baik oleh musuh-musuh Bani Umayah untuk dihancurkan, dan segera diganti.
Beberapa faktor yang menjadi akar melemah dan hancurnya Bani Umayah, antara lain :
1.      System suksesi khalifah dengan cara dinatian bukan tradisi Arab dan lebih mengandalkan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas, sehingga menimbulkan menimbulkan persaingan yang keras di kalangan anggota keluarga.
2.      Latar belakang terbentuknya Bani Umayah tidak terlepas dari konflik politik yang terjadi di masa Ali. Ktbu Ali (Syi’ah) dan kubu khawarij yang masih tersisa, terus menjadi oposisi dan melakukan perlawanan terhadap Bani Umayah, baik dengan terang-terangan maupun dengan cara sembunyi-sembunyi. Penumpasan terhadap kelompok-kelompok ini, banyak menyedot kekuatan pemerintah Bani Umayah.
3.      Pada masa Bani Umayah pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) terus menruncing. Konflik ini membuat penguasa Bani Umayah merasa kesulitan dalam menggalang persatuan dan kesatuan.
4.      Faktor lemahnya Bani Umayah juga akibat sikap hidup mewah orang-orang di lingkungan istana, sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kekuasaan. Kemudian, banyak para agamawan yang kecewa dengan penguasa Bani Umayah karena penguasa ini sudah tidak memperhatikan pengembangan agama.
5.      Munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan al-Abbas ibn Abd Thalib yang mendapatkan dukungan dari Bani Hasyim dan golongan Syi’ah dan kaum Mawali.[9]
Akhir kehancuran Dinasti Umayah, dimulai oleh pembunuhan terhadap khalifah Marwan yang dilakukan oleh Abul Abbas as-Shaffah, setelah itu ia menjadi khalifah dalam kekuasaan umata Islam. Kemudian kelompok Abul Abbas, beralih menghancurkan Yazid bin Umar bin Hubairah, yang merupakan benteng terakhir kekuasaan dinasti Umayah.[10] Jadi, hancurnya dua kekuayaan Umayah ini, menjadi akhir dari kiprah bani Umayah dalam sejarah kekuasan Islam.
B. DINASTI ABBASIYAH
a. Asal-usul Dinasti Bani Abbasiyah
Khilafah Bani Abbasyiyah adalah penerus tongkat  estafet perjuangan Islam dari khilafah bani Umayyah yang berhasil mereka gulingkan pada tahun 750 M. Akar munculnya khilafah ini dimulai dari tindakan propaganda Abbasiyah yang dimotori oleh Ibrahim (orang Bani Abbas/saudara Saffah) yang mendapat dukungan dari pemuka khurasan bernama Abu Muslim. Ditambah lagi kekuatan oposisi yang semakin solid serta pemegang kursi pemerintahan bani Umayyah  semakin melemah. Dari tindakan propaganda ini akhirnya memunculkan perselisihan seru antara bani Umayyah  dan bani Abbasiyah yang diakhiri dengan jatuhnya kekuasaan Bani Umayyah.
Dinasti Abbasiyah muncul juga tidak bisa dilepaskan dari bantuan orang-orang Persia yang merasa bosan terhadap bani Umayyah di dalam sosial, politik dan administrasi. Orang-orang Persia percaya kepada hak agung raja-raja (yang berasal dari Tuhan). Kekhalifahan menurut mereka merupakan kekuasaan dari Allah. Hal ini nampak jelas dalam ucapan al-Manshur yang menyatakan:“Innamaa Anaa Sulthaanullah fii Ardlihii” (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya). Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya merupakan mandat langsung dari Allah bukan dari rakyat. Sistem kekhalifahan semacam ini sangat berbeda dengan sistem kekhalifahan pada masa Khulafaur Rasyidun dimana kekhalifahan mereka berasal dari rakyat.
Dinamakan khilafah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah dari keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad S.A.W.
b. Sistem Pergantian Kholifah
Sistem pemerintahan yang diterapkan bani Abbasiyah masih sama dengan pendahulunya, bani Umayyah dengan sistem kekuasaan absolutisme. Mereka mengangkat dan mengumumkan seorang atau dua orang putra mahkota atau saudaranya sendiri untuk terus mempertahankan kepemerintahan. Kebijakan menerapakan sistem seperti ini tentu saja menimbulkan kecemburuan dan kebencian diantara sesama keluarga. Sebagai contoh, tatkala al-Manshur naik tahta, dia mengumumkan Mahdi sebagai putra mahkota pertama dan menunjuk Isa ibn Musa, kemenakannya sebagai putra mahkota kedua. Saat itu juga al-Manshur mengasingkan Isa sama sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah pertama al-Shaffah.
Seluruh anggota keluarga Abbas dan pemimpin umat Islam mengangkat Abdullah al-Saffah  ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas sebagai khalifah mereka yang pertama walaupun masih ada Abu Ja’far (al-Manshur) yang nantinya akan menjadi khalifah yang kedua. Kekhalifahan bani Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang dan pada periode pertama (750 – 848 M) tercatat kurang lebih 10 khalifah yang memimpin dengan silsilah keturunan sebagai berikut :
NO
NAMA
MASA BERKUASA
1.       
Saffah ibn Muhammad
(132 H/750 M)
2.       
Abu Ja’far al-Manshur ibn Muhammad
(136 H/754 M)
3.       
Mahdi ibn al-Manshur
(158 H/775 M)
4.       
Hadi ibn Mahdi
(169 H/785M)
5.       
Harun al-Rasyid ibn Mahdi
(170 H/786M)
6.       
Amin ibn Harun
(193 H/804 M)
7.       
Ma’mun ibn Harun
(198 H/813 M)
8.       
Mu’tashim ibn Harun
(218 H/833 M)
9.       
Watsiq ibn Mu’tashim
(227 H/842 M)
10.   
Mutawakkil ibn Mu’tashim
(232 H/848 M)

Dalam perkembangannya, di bawah khalifah Saffah, ibu kota negara berada di kota Anbar dekat kufah dengan istana yang diberi nama al-Hasyimiyah. Namun demi menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu akhirnya pada tahun 762 M al-Manshur memindahkan ibu kota negara ke Baghdad dengan istana al-Hasyimiyah II. Dengan demikian, pusat pemerintahan daulah Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Diantara langkah-langkah yang diambil al-Manshur dalam menertibkan pemerintahannya antara lain :
1.      Mengangkat pejabat di lembaga ekskutif dan yudikatif.
2.      Mengangkat wazir (menteri) sebagai koordinator departemen. Dan wazir pertama yang diangkatnya adalah Khalid ibn Barmak berasal dari kota Balkh Persia
3.      Mengangkat sekretaris negara dan kepolisian negara dan membenahi angkatan bersenjata
4.      Memaksimalkan peranan kantor pos. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.
5.      Berdamai dengan kaisar Constantine V, dan selama gencatan senjata, Bizantium membayar upeti tahunan.
Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan oleh Shaffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada beberapa khalifah sesudahnya. Popularitas daulah Abbasiyah mencapai klimaks kesuksesan adalah pada masa pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid dan puteranya al-Ma’mun.
Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik yang ada, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode dengan karakteristik yang berbeda-beda pula :
1.      Periode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2.      Periode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M), disebut masa pengaruh Turki pertama
3.      Periode ketiga, (334 H/945  M – 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
4.      Periode keempat, (447 H/1055 M – 590 H/1194 M)  masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.      Periode kelima, (590 H/1194 M – 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad.
c.Keberhasilan Yang Dicapai
Dalam hal ini terbagi menjadi dua, yaitu material dan immaterial
a). Bidang Material :
Pada zaman al-Mahdi, sebenarnya perekonomian sudah mulai menggeliat dengan peningkatan di sektor pertanian, melaluai irigasi dan peningkatan hasil pertambangan. Diantara prestasi-prestasi yang berhasil diraih al-Mahdi antara lain:
1.      Dia membangun gedung-gedung sepanjang jalan menuju Makkah.
2.      Masjid Agung di Madinah diperbesar tetapi menghapus nama khalifah bani Umayyah, Walid dari dinding masjid itu dan mengganti dengan namanya.
3.      Membangun tempat pelayanan pos antara Makkah dan Madinah kemudian Yaman yang berfungsi sebagai tempat pembayaran ongkos perjalanan tiap mil.
4.      Membuat benteng di beberapa kota khususnya Rusafa di bagian Baghdad Timur
Popularitas daulah bani Abbasiyah mencapai puncak peradaban dan kemakmurannya di zaman Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak, dimanfaatkan Harun untuk keperluan sosial. Istana-istana besar, rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter dan farmasi didirikan. Bahkan menurut sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa sebenarnya Harun ingin menggabungkan laut tengah dengan laut merah. Namun Yahya ibn Khalid (dari keluarga barmak) tidak menyetujui gagsan itu. Pada masa al-Ma’mun menjadi khalifah, ia banyak mendirikan sekolah-sekolah. Salah satu karya terbesarnya adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang sangat besar.
Baghdad, kota kuno yang didirikan oleh orang-orang Persia, merupakan tempat perdagangan yang kerap kali dikunjungi oleh pedagang dari India dan Cina. Para Insinyur, tukang batu, dan para pekerja tangan didatangkan dari Syiria, Bashra, Kufa untuk membantu didalam memperindah kota. Bahkan di daerah pinggir kota ini sudah terbagi menjadi empat bagian pemukiman yang masing-masing mempunyai seorang pemimpin yang dipercaya untuk mendirikan pasar di pemukimannya. Demikianlah di zaman Abbasiyah pertama. Baghdad menjadi kota terpenting di dunia sebagai sentral perdagangan, ilmu pengetahuan dan kesenian. Masjid-masjid dan bangunan-bangunan  lain semakin bertambah banyak dan menjadi hal menarik dalam kesenian muslim.
a). Bidang Imaterial :
Kemajuan yang dicapai dinasti Abbasiyah mencakup ilmu agama, filsafat dan sain (Harun Nasution, 2001:65-69).  Ilmu agama yang dikembangkan pada masa ini mencakup:
a. Ilmu Hadits
Tokohnya: Al-Bukhori dengan kitabnya al-Jam’i al-Shahih dan Tarikh al-Kabir, Muslim dengan kitabnya Shahih Muslim, Ibnu Majjah, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan al-Nasa’i.
b. Ilmu Tafsir
Tokohnya: Ibnu Jarir Ath Thabari dengan karyanya Jami al-Bayan fi Tafsir al- Qur’an sebagai pegangan pokok bagi mufassir hingga sekarang, Abu Muslim Muhammad Ibn Bahar al-Ashfahani dengan tafsirnya Jami’ut Ta’wil, Ar-Razy dengan tafsirnya Al-Muqthathaf.
c. Ilmu Fiqih
Tokohnya: Abu Hanifah dengan kitabnya Musnad al-Imam al-A’dhom atau Fiqh al-Akbar, Malik dengan kitabnya al-Muwatha’, Syafi’i dengan kitabnya al-Um dan al-Fiqh al-Akbar fi al-Tauhid, dan Ibn Hambal dengan kitabnya al-Musnad.
d. Ilmu Tasawuf  atau Mistisisme Islam
Tokohnya: Abu Bakr Muhammad al-Kalabadi dengan karyanya al-Ta’arruf li Mazhab Ahl al-Tasawuf, Abu Nasr as-Sarraj al-Tusi dengan karyanya al-Luma’, Abu Hamid al-Ghazali dengan karyanya Ihya ‘Ulum al-Din, dan Abu Qasim Abd al-Karim al- Qusyairi dengan karyanya Maqamat. Tokoh lainnya, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husain Ibn Mansur al-Hallaj, dsb.
e. Ilmu   Kalam atau Theologi
Tokohnya seperti Washil bin Atha’,  Ibn al-Huzail, al-Allaf, dll dari golongan Mu’tazilah, Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Maturidi dari ahli sunnah.
f. Ilmu  Tarikh atau Sejarah
Tokohnya: Ibn Hisyam (abad VIII), Ibn Sa’d (abad IX), dll.
g. Ilmu  Sastra
Tokohnya: Abu al-Farraj al-Isfahani dengan karyanya Kitab al-Aghani, al-Jasyiari dengan karyanya Alfu Lailah wa Lailah di pertengahan abad X. h. Ilmu agama lainnya seperti ilmu al-Qori’ah, ilmu Bahasa,  dan Tata Bahasa. Di antara ilmu yang menarik pada masa dinasti Abbasiyah adalah Filsafat. Ilmu ini berasal dari Yunani kemudian diterjemahkan  ke dalam bahasa Arab, bahkan juga buku-buku yang berasal dari Persia maupun Spanyol. Dari gerakan ini muncul para filosof Islam, seperti:
a. Al-Kindi (185-260 H/801-873 M)
Al-Kindi lahir di Kufah, karyanya sekitar 270 buah yang dikelompokkan oleh ibn Nadim dan al-Qifti menjadi 17, yaitu: filsafat, logika, ilmu hitung, globular, musik, astronomi, geometri, sperikal, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik,240 meteorology, dimensi, benda-benda pertama, dan spesies tertentu logam dan kimia.
b. Al-Razi (251-313 H/865-925 M)
Nama latinnya adalah Rhazes, lahir di Rayy dekat Teheran. Buku-buku filsafatnya antara lain: Al-Tibb al-Ruhani, Al-shirat al-Falsafiyyah, Amarat Iqbal al-Daulah, Kitab al-Ladzdzah, Kitab al-Ilm al-Ilahi, dll.
c. Al-Farabi (258-339 H/870-950 M)
Di Barat dikenal dengan nama Alpharbiu, lahir di Wasij (suatu desa di Farab/ Transoxania). Selain seorang filosof, ia juga ahli dalam bidang logika, matematika, dan pengobatan. Dalam bidang fisika, ia menulis kitab al-Musiqa. Di antara karyanya adalah: al-Tanbih ‘ala Sabil al-Sa’adat, Ihsha al-Ulum, al-Jam’ bayn Ra’y al-Hakimayn, Fushush al-Hikam, dll.
d. Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M)
Nama latin Ibn Sina adalah Avicenna, lahir di Afsyana (dekat Bukhara). Selain ahli filsafat  dan  kedokteran,  beliau  juga memiliki  karya  dalam  bidang  logika, matematika, astronomi, fisika, mineralogy, ekonomi, dan politik. Karyanya antara lain: Kitab al-Syifa, Kitab al-Nadjat, Al-Isyarat wat-Tanbihat, Al-Hikmat al-Masyriqiyyah, dll.
e. Al-Ghazali (455-507H/1059-1111 M)
Beliau bergelar hujjatul Islam, lahir di Ghazaleh dekat Tus di Khurasan. Karyanya antara lain: Al-Munqidz min ad-Dlalal, Tahafut al-Falasifah, Ihya Ulumuddin, Qawaid al-‘Aqaid, Misykat al-Anwar, dll.
f. Ibn Rusyd (520-595 H/1126-1198 M)
Di Barat namanya Averroes, lahir di Cordova. Bukunya yang terpenting ada empat: Bidayatul Mujtahid, Faslul Maqal fi ma baina al-Hikmati was Syari’at min al- Ittisal, Manahij al-Adillah fi Aqaidi Ahl al-Millah, dan Tahafut at-Tahafut.
g. Ibn Bajjah (w. 533 H/1138 M)
Beliau lahir di Saragossa dan karyanya berupa risalah antara lain: Al-Ittisal, al- Wada’, Tadbir al-Mutawahhid, dll.
h. Ibn Tufail (506-581 H/1110-1185 M)
Beliau lahir di Granada. Karangannya tentang filsafat, fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya tidak sampai kepada kita kecuali satu yaitu risalah Hay bin Yaqzhan.
Kemajuan sains pada masa dinasti Abbasiyah didukung oleh Science Policy, yakni antara lain dengan didirikannya akademi, sekolah dan observatorium (lembaga ilmiah  yang melakukan  penelitian  dan  pengajarannya  sekaligus)  di  samping perpustakaan. Dengan kebijakan tersebut menimbulkan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti:
a. Kedokteran
Tokohnya:  Al-Razi dengan karyanya al-Hawi, Ibn Sina dengan karyanya al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine) dan Materia Medica yang memuat 760 obat-obatan.
b. Ilmu Kimia
Tokohnya: Jabir Ibn Hayyan yang berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan menggunakan obat rahasia. Ia mengetahui cara membuat asam belerang, asam sendawa, dan aqua regia yang dapat menghancurkan emas dan perak.Ia juga memperbaiki teori aristoteles mengenai campuran logam.241
c. Astronomi
Tokohnya: Al-Biruni dengan kitabnya al-Hind dan al-Qanun al-Mas’udi fi al-Hai’a wa al-Nujum, Nasiruddin Tusi menyusun tabel astronomi Ilkanian, Ibn Yunus membuat perbaikan tabel astronomi dan Hakemite Tables, Moh. Targai Ulugh Begh (cucu Timur Lenk) menyusun kitab al-Zij al-Sulthani al-Jadid yang berisi 1018 bintang.
d. Matematika
Tokohnya yang populer adalah al-Khawarizmi yang menemukan angka 0 (aljabar) pada abad IX. Angka 1-9 berasal dari angka-angka Hindu di India.
e. Optik
Tokohnya adalah Ali al-Hasan ibnul Haitsam yang dikenal Alhazen, menulis sebuah buku besar tentang optic “Optical Thesaurus”, mengoreksi teori Euclid dan Ptolemy. Ia juga mengembangkan teori pemfokusan, pembesaran, dan inversi dari bayangan.
f. Fisika
Tokohnya Abdul Rahman al-Khazini, menulis kitab Mizanul Hikmah (The Scale of Wisdom) tahun 1121 M.
g. Geografi
Tokohnya: Zamakhsyari (w.1144) seorang Persia, menulis kitabul Amkina wal Jibal wal Miyah (The Book of Places, Mountains and Waters), Yaqut menulis Mu’jamul Buldan (The Persian Book of Places) tahun 1228, Al-Qazwini menulis Aja’ib al-Buldan (The Wonders of Lands), dll.
h. Sains lainnya
Seperti Botani (Abd Latif), Antidote/penawar racun (Ibn Sarabi), Trigonometri (Jabir ibn Aflah), dan Musik (Nasiruddin Tusi, Qutubuddin, Asy- Syirazi, dan Safiuddin).

d. Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Setelah kekuasaan bani Seljuk berakhir, khalifah bani Abbasiyah berkuasa kembali dan titak lagi berada di bawah pengaruh satu dinasti tertentu. Namun demikian, banyak dinasti-dinasti kecil Islam yang independent. Wilayah kekuasaan bani Abbasiyah menyempit di Baghdad dan sekitarnya yang menunjukkan pada kelemahan politik mereka. Keadaan ini dibaca oleh tentara Mongol dan Tartar untuk menyerang Baghdad yang akhirnaya bisa mereka kuasai.
Masa kemunduran bani Abbasiyah sebenarnya sudah dimulai sejak periode kedua. Namun karena khalifah yang berkuasa sangat kuat, benih kehancuran dinasti ini masih belum sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan bani Abbasiyah terlihat bahwa apabila khalifah yang berkuasa kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil yang hanya mendapatkan bayaran, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan sepenuhnya. Di samping kelemahan khalifah yang menjadi penyebab kemunduran, ada beberapa faktor lain yang menjadi sebab kemunduran khilafah bani Abbasiyah, antara lain:
1.      Persaingan Antar Bangsa
Dalam berdirinya khilafah bani Abbasiyah, mereka lebih memilih bersekutu dengan bangsa Persia dari pada bangsa Arab. Persekutuan ini disebabkan karena mereka sama-sama tertindas selama bani Umayyah berkuasa. Di sisi lain, bangsa Arab beranggapan bahwa mereka lebih istimewa dibandingkan dengan bangsa non Arab di dunia Islam. Pada waktu itu tidak ada kesadaran untuk merajut elemen-elemen yang beraneka ragam tersebut dengan kuat. Akibatnya yang muncul adalah fanatisme kearaban dan fanatisme antar bangsa. Setelah al-Mutawakkil naik tahta, dominasi Turki dalam kepemerintahan tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan khilafah bani Abbasiyah sebenarnya sudah berakhir berganti ke tangan orang-orang Turki, bani Buwaih, dan bani Seljuk.
2.      Kemerosotan Ekonomi
Khilafah bani Abbasiyah juga mengalami kemunduran dalam bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran dalam bidang politik. Walaupu periode pertama terbilang sukses perekonomiannya, namun memasuki periode kedua mengalami kemerosotan. Pendapatan negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar.  Hal ini disebabkan menyempitkan wilayah kekuasaan mereka dan banyaknya kerusuhan yang mengganggu perekonomian bangsa.
Kondisi politik  yang tidak stabil menyebabkan perekonomian semakin memburuk. Sebaliknya, perekonomian yang buruk semakin memperlemah kondisi polotik dinasti Abbasiayah, kedua faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
3.      Konflik Keagamaan
Pada periode pertama sudah bermunculan gerakan-gerakan keagamaan yang membuat beberapa khalifah waktu itu merasa berang dan berusaha untuk memberantasnya. Al-Mahdi bahkan mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid’ah. Akan tetapi semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik di antara merekapun bermunculan. Mulai dari polemik tentang ajaran sampai pada konflik bersenjata yang menumpahkan darah diantara kedua belah pihak.
Konflik keagamaan tidak terbatas antar muslim dan zindiq atau Sunni dengan Syi’ah, melainkan juga antar aliran dalam Islam. Mu’tazilah yang cenderung rasional, dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan salaf. Perselisihan antara dua golongan  ini dipertajam oleh al-Ma’mun saat menjabat sebagai khalifah dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi dinasti Abbasiyah. Pada masa al-Mutawakkil, giliran golongan salaf yang menjadi madzhab resmi, sementara Mu’tazilah dibatalkan.
4.      Ancaman dari Luar
Setidaknya ada dua Faktor eksternal yang mempengaruhi kemunduran dinasti Abbasiyah. Pertama, perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang yang menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Begitu juga orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II mengeluarkan seruan kepada umat Kristen Eropa supaya melakukan perang suci yang lebih dikenal dengan sebutan perang Salib.


BAB III

KESIMPULAN PENUTUP

a. Kesimpulan
- Bani Umayyah
Bani Umayah merupakan salah satu dinasti Islam yang cukup masyhur seperti yang penguasa-penguasa muslim yang lain. Bahkan pada masa ini, perubahan demi perubahan dilakukan, setidaknya keberanian Bani Umayah untuk keluar dari tradisi Arab dalam masalah pergantian kepemimpinan serta pemindahan pusat kekuasaan dari Jazirah Arab ke Damaskus (luar jazirah Arab) menjadi bukti sederhana tentang dinamika yang terjadi pada masa Bani Umayah berkuasa.
Tulisan di atas walaupun sangat singkat telah memberikan gambaran tentang pergulatan kekuasan Bani Umayah dengan segala dinamikan yang terjadi selama berkuasa kurang lebih 90 tahun lamanya, di satu sisi telah menorehkan banyak catatan kemajuan bagi Islam, tetapi pada sisi yang lain tidak juah beda dengan penguasa-penguasa sebelumnya, yaitu ketidakmampuan dalam meminimalisir konflik politik, yang acapkali melahirkan berbagai tragedi pertempuran di kalangan umat Islam.
Namun demikian, Bani Umayah tetaplah bagian penting dan menarik dalam sejarah umat Islam yang harus terus dijadikan sebagai pengalaman sangat berharga, karena tidak semua yang dilakukan Bani Umayah itu jelek, tetapi juga memiliki sisi penting yang harus ditiru oleh umat Islam. Kekuasaan Bani Umayah yang hampir seabad lamanya dalam memimpin umat Islam, tetaplah sebuah prestasi yang harus diapreasi secara kritis.
- Bani Abbasiyah
Masa kekuasaan bani Abbasiyah yang terbagi dalam lima periode terbilang cukup lama. Dengan menerapkan sistem kekuasaan absolutisme, mereka telah menguasai dunia Islam lebih dari 500 tahun. Pada saat itu pula masa kejayaan Islam direngkuh. Kemajuan yang dicapai dalam bidang fisik, ilmu pengetahuan, poltik, ekonomi, dan banyaknya ilmuwan Islam saat itu adalah bukti konkrit bahwa Islam mencapai puncak kejayaannya. Berbagai peristiwa penting, seperti perluasan wilayah Islam ke berbagai daerah, juga beberapa peperangan termasuk perang dengan Byzantium, Mongol, Tartar, penumpasan gerakan Zindiq, dan perang Salib ikut mewarnai perjalanan kepemerintahan dinasti Abbasiyah.
Bila kita cermati, dalam sejarah kekuasaan bani Abbasiyah terlihat bahwa apabila khalifah yang berkuasa kuat, maka kepemerintahan akan berjalan baik pula. Kekuasaan sepenuhnya ada di tangan khalifah. Para menteri cenderung hanya berperan sebagai kepala pegawai sipil. Tetapi jika yang menjabat sebagai khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan sepenuhnya. Bahkan dalam pengangkatan atau pemberhentian khalifah mereka sendirilah yang menentukan.
Sistem kekuasaan absolutisme yang mereka jalankan, ditengarai menjadi salah satu penyebab kemunduran dinasti Abbasiyah. Dengan sistem yang demikian, tidak mungkin dipungkiri akan menimbulkan kecemburuan di kalangan keluarga mereka sendiri. Apalagi dengan banyaknya kerusuhan, baik di kalangan umat Islam sendiri ataupun serangan-serangan dari Negara lain adalah penyebab utama kehancuran dinasti Abbasiyah.
Penutup
Alhamdullilah, makalah ini terselesaikan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Mudah-mudahan menjadi penumbuh ide atau isnpirasi kita bersama.
DAFTAR PUSTAKA
-        Ahmed, Dr. Akbar S. Citra Muslim Tinjauan Sejarah dan Sosiologi. Jakarta : Erlangga, 1992
-        Al-Mukhdhori, Muhammad Tarikh Tasyri’ al-Islami. Tempat dan penerbit tidak disebutkan, 1981
-        Gibb, H.A.R. Islam dalam Lintasan Sedjarah. Jakarta : Yayasan Franklin, 1953
-        Hassan, Ibrahim, Sejarah Kebudayaan Islam, Yogyakarta, Kota Kembang
-        Khaeruman, Badri, Otentisitas Hadist : Studi Kritis Atas Hadist Kontemporer. Bandung, Rosda, 2004
-        Lewis, Bernard. The Crisis of Islam : Holy War and Unholy Terror, terj. Muhammad Hariri Marzuki. Surabaya : Jawa Pos Press, 2004
-        Mughni, Syafiq A. Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan . Surabaya : LPAM, 2002
-        Sulaiman Schwartz, Stephen. Dua Wajah Islam : Modernisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global, terj. Hodri Ariv. Jakarta : Balantika, 2007
-        Syalabi, Prof. Dr. A. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Jakarta : Pustaka al-Husna, 2003
-        Yatim, M.A, Drs. Badri. Sejarah Peradaban Islam . Jakarta : PT. Grafindo Persada, 1998


[1]  Islam pada awalnya berkembang di tengah-tengah orang Arab dan bangsa Semit lainnya, kemudian Islam berkembang di Iran, Kaukasus, orang kulit putih laut tengah, Slavia, Turki dan Tartar, Tinghwa, India, Indonesia, Banu dan Negro dari Afrika Barat. H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sedjarah (Jakarta, Yayasan Franklin, 1953),lm. 25
[2] Bernard Lewis, The Crisis of Islam : Holy War and Unholy Terror, terj. Muhammad Hariri Marzuki (Surabaya, Jawa Pos Press, 2004), hlm. 18
[3] Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2 (Jakarta : Pustaka al-Husna, 2003), hlm. 21
[4] Ibid. hlm. 64
[5] H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sejarah…t. hlm. 12
[6] Drs. Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta, PT. Grafindo Persada, 1998), hlm. 42
[7] Drs. Badri Khaeruman, M.Ag, Otentisitas Hadist : Studi Kritis Atas Kajian Hadst Kontemporer (Bandung, Rosda, 2004), hlm. 39
[8] C.A. Qadir, Filsafat Dan ilmu Pengetahuan dalam Islam (Jakarta, Pustaka Obor, 2002), hlm. 37
[9] Badri Yatim, Otentisitas Hadist…. hlm. 48-49
[10] Ibid. hlm. 44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar